
Lingkungan merupakan sebuah isu yang memiliki pengaruh jangka Panjang dalam proses pengerjaan. Beberapa komunitas non-profit, NGO, dan Lembaga pemerintahan memiliki cakupan focus tertentu terhadap beberapa tema lingkungan.
Pada 19 Agustus 2018, gerakan nasional yang dipelopori oleh Kementerian Kelautan Perikanan dan beberapa publik figur serta organisasi yang bergerak dibidang lingkungan yaitu Pandu Laut. “Menghadap Laut” dilakukan di 73 titik diseluruh Nusantara. Jumlah 73 titik tersebut juga sebagai bentuk memeriahkan dirgahayu Republik Indonesia Ke-73. Akan tetapi informasi terakhir diberitakan bahwa ada beberapa tanbahan titik kegiatan Menghadap Laut yang dilaksanakan mandiri oleh komunitas lingkungan dan masyarakat. Menghadap Laut juga menjadi komitmen bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk membersihkan laut Nusantara sebanyak 70 persen pada tahun 2025. Tentu saja ini menjadi tugas berat yang harus dilakukan bersama masyarakat. Ada beberapa faktor menarik pentingnya kegiatan non-profit seperti Menghadap Laut harus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Menjadi medium belajar
Bagi milinials yang sudah menjadi orang tua baru, kegiatan sosial seperti Menghadap Laut dapat menjadi alternatif liburan dan juga wisata edukasi. Karena saat ini pentingnnya sosialisasi bagi anak di era digital. Bahkan menurut data sebanyak 72 persen anak usia 8 tahun ke bawah sudah menggunakan perangkat mobile seperti smartphone, tablet, dan iPod sejak 2013, di mana mayoritas usia 2 tahun lebih suka pakai tablet atau ponsel pintar tiap harinya. Dibandingkan tahun 2011 angka tersebut masih berada di 38 persen (cnnindonesia.com). Kegiatan Lingkungan seperti ini bias menjadi pelajaran sebab akibat ketika kita melakukan sebuah kegiatan, dalam konteks ini membuang sembarangan sampah plastik dilaut.
Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar kedua dilaut
Komitmen pemerintah dalam membersihkan sampah di laut akan menjadi sebuah tugas yang berat. Tidak dapat dilakukan pemerintah saja. Perlu peranan masyarakat untuk membantu dan peduli menjada kelestarian laut. Bahkan sebuah studi yang dilakukan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin telah menemukan bahwa sepertiga sampel ikan yang ditangkap di daerah Timur Indonesia mengandung mikro plastik. Bahkan, mikro plastik telah terkandung dalam hampir semua air keran di seluruh dunia. Bukan sebuah peninggalan yang bijak untuk generasi berikutnya (kkp.go.id).
Lebih dari 90 persen wilayah Indonesia berupah Lautan
Angka persentasi ini akan terus meningkat mengikuti pemanasan global yang membuat pesisir semakin terendam air laut. Menjadi potensi bagi negara maritime seperti Indonesia. Lautan yang luas menjadi menopang sektor ekonomi Indonesia seperti Pangan, Pariwisata, dan Transportasi. Bahkan wisatawan mulai mengeluhkan kotornya laut Indonesia. Wisatawan domestik maupun manca negara memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi. Ikan juga menjadi pengganti penuhan gizi masyarakat Indonesia. Protein pada ikan bisa menjadi alternatif daging.
Sebuah lagu anak-anak “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” Karya Ibu Sud adalah salah satu gambaran dari mana negara ini berasal. Identitas bangsa yang harus kita perjuangkan.
